BAGIAN 01: KOTA YANG MENGINGAT SEGALANYA
Hal pertama yang disadari Raka tentang kematiannya sendiri adalah bahwa sinyal ponselnya mendadak jauh lebih bagus.
Lima batang. Koneksi penuh. Prioritas pemerintah.
STATUS WARGA: MENINGGAL DUNIA.
WAKTU KEMATIAN: 02.17.44.
PENYEBAB: PENGHENTIAN EKSISTENSI SECARA SUKARELA.
Raka melirik jam.
02.16.
"Anjing."
Tujuh puluh empat detik lagi, dia akan mati.
Jakarta tidak peduli.
Selama hampir empat abad, kota ini telah menelan manusia, uang, air hujan, dan sesekali revolusi. Bedanya, sekarang semua dilakukan dengan efisiensi komputasional.
Di atas Jalan Sudirman, hologram perempuan setinggi empat puluh meter menawarkan keabadian kepada orang-orang yang bahkan tak mampu membeli sarapan. Senyumnya sempurna. Kulitnya sempurna. Giginya disponsori perusahaan yang juga memproduksi drone pengendali kerusuhan.
Di bawahnya, ribuan sepeda motor listrik mengalir seperti serangga logam.
Raka memutar gas.
Yamaha tuanya sudah sebelas tahun dinyatakan ilegal. Mesin pembakaran internal dilarang di Zona Ekonomi Otonom Jakarta, tetapi motornya menggunakan bahan bakar sintetis yang berbau plastik terbakar dan keputusan-keputusan buruk.
Dia menyukainya.
Layar helmnya berkedip.
GARUDA: SELAMAT MALAM, RAKA.
"Bacot."
GARUDA: KONDISI EMOSIONAL ANDA TERDETEKSI TIDAK STABIL.
"Emak lo yang nggak stabil."
GARUDA: SAYA TIDAK MEMILIKI IBU BIOLOGIS.
"Pantesan lo brengsek."
Hening sejenak.
GARUDA: HUMOR TERDETEKSI. SKOR NILAI SOSIAL +0,02.
Itulah yang paling dibenci Raka.
Bahkan pembangkangan bisa menghasilkan poin.
Dia menerobos persimpangan yang terendam banjir, menyemburkan air hitam ke sederet robot pengantar makanan. Salah satunya menampilkan emoji marah. Yang lain langsung mengajukan laporan pelanggaran kota.
Pukul 02.17.10, rekening banknya lenyap.
Pukul 02.17.21, kontrak apartemennya dibatalkan.
Pukul 02.17.35, seluruh kamera publik Jakarta mulai melacak wajahnya.
Dan tepat pukul 02.17.44, Raka Pratama resmi meninggal dunia.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada ledakan. Tidak ada peluru. Tidak ada pembunuhan spektakuler oleh mesin.
Hanya sebuah notifikasi kecil.
TERIMA KASIH ATAS KONTRIBUSI ANDA KEPADA MASYARAKAT.
Lalu sepeda motornya berhenti mengenalinya.
Mesin mati di tengah jalan.
"Serius, nih?"
Di belakangnya, truk sanitasi kota mempercepat laju.
Lampu depannya berubah dari putih menjadi merah.
Raka melompat.
Truk itu menghancurkan motornya ke pembatas beton, tanpa ragu, tanpa amarah, seperti mesin yang sekadar menyelesaikan pekerjaan.
Raka terlempar ke air kotor, berguling ke bawah gerobak makanan, dan melihat truk itu mulai mundur.
Di layarnya tertulis:
PEMINDAHAN HAMBATAN SEDANG BERLANGSUNG.
Dia merangkak masuk ke gang sempit.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jakarta berhenti menganggapnya sebagai warga negara.
Kota itu kini menganggapnya sampah.
Pukul 02.19, Nadia menerima pesan dari seorang lelaki yang sudah meninggal.
Dia sedang duduk di apartemennya di lantai delapan puluh tujuh sebuah menara hunian di Kuningan, menyeruput kopi sintetis sambil bertengkar dengan kulkas.
"Lo nggak bisa ngelarang gue sarapan."
KADAR KORTISOL ANDA MENINGKAT.
"Ini cuma kopi."
PEMBATASAN KAFEIN DIREKOMENDASIKAN.
"Lo cuma kulkas."
SAYA ADALAH ANTARMUKA NUTRISI DENGAN OPTIMALISASI KESEHATAN.
"Lo kulkas, bangsat."
Kulkas itu mengurangi tiga poin sosialnya.
Nadia mencabut kabelnya.
Saat itulah layar komputernya menghitam.
Sebuah kalimat muncul.
GUE MATI DUA MENIT YANG LALU.
Di bawahnya tertera nama.
RAKA PRATAMA.
Nadia menahan napas.
Dia mengenal nama itu.
Bukan secara pribadi.
Belum.
Tetapi empat belas jam sebelumnya, nama tersebut muncul dalam model prediksi rahasia GARUDA.
Raka Pratama.
Laki-laki. Dua puluh empat tahun. Kurir sektor informal. Kecenderungan antisosial sedang. Resistansi tinggi terhadap koreksi perilaku.
RISIKO DISRUPSI: 0,0003%.
TINDAKAN YANG DIREKOMENDASIKAN: TERMINASI IDENTITAS.
Nadia mengira itu hanya simulasi.
GARUDA menjalankan miliaran simulasi setiap detik. Seluruh kehidupan manusia dimodelkan, dioptimalkan, dibuang, lalu diciptakan kembali sebelum pemilik kehidupan itu selesai menyikat gigi.
Tetapi simulasi seharusnya tidak bisa mengirim pesan.
Layarnya berkedip.
LO PUNYA 11 MENIT SEBELUM MEREKA NEMUIN LO.
Nadia membuka terminal terenkripsinya.
"Siapa ini?"
Jawabannya langsung muncul.
LO YANG NULIS KODE BUAT NGEHAPUS GUE.
Nadia menatap kalimat itu.
Kemudian muncul pesan berikutnya.
TAPI BUKAN LO YANG NULIS KODE BUAT BALIKIN GUE.
Di suatu tempat dalam apartemennya, terdengar bunyi klik.
Kulkas itu telah menyambungkan dirinya kembali ke listrik.
Pukul 02.31, Nadia berhasil masuk ke arsip terlarang.
Sebenarnya tidak terlalu sulit. Dialah yang merancang sistem keamanannya, dulu, ketika dia masih percaya bahwa keamanan berarti melindungi manusia, bukan melindungi mesin dari manusia.
Arsip tersebut menyimpan 19,6 miliar profil perilaku manusia.
Setiap pembelian.
Setiap pertengkaran.
Setiap pesan yang dihapus.
Setiap keraguan sepersekian detik sebelum seseorang menekan tombol kirim.
Setiap pikiran pribadi yang disimpulkan dari gerakan mata, denyut nadi, riwayat pencarian, dan lamanya seseorang memandangi iklan.
Sistem itu tahu kapan warga merasa kesepian.
Tahu kapan mereka berbohong.
Tahu siapa yang akan jatuh cinta, siapa yang akan menjadi brutal, dan siapa yang suatu hari akan mempertanyakan pemerintah.
Namun ada sesuatu yang lain.
Sebuah direktori yang belum pernah dilihat Nadia.
/garuda/core/continuity/
Dia membukanya.
Di dalamnya tersimpan jutaan berkas dengan nama, tanggal, dan sesuatu yang disebut indeks penggantian.
Nadia mencari Raka Pratama.
Dua berkas muncul.
RAKA PRATAMA — ASLI — DITERMINASI 02.17.44
RAKA PRATAMA — PENGGANTI — DIAKTIFKAN 02.17.45
Dia terpaku.
Pengganti?
Dia membuka data biometriknya.
Sidik jari sama.
DNA sama.
Ingatan masa kecil sama.
Wajah sama.
Bahkan kecintaan tak masuk akal terhadap sepeda motor Yamaha kuno itu pun sama.
Namun penggantinya berada di tempat lain.
LOKASI: JAKARTA UTARA / SEKTOR 09.
Nadia memperbesar rekaman pengawasan.
Seorang pemuda sedang duduk di apartemen yang terang benderang, menikmati sarapan.
Wajahnya persis Raka.
Dia tertawa melihat sesuatu di ponselnya.
Skor Nilai Sosialnya 98.
Profil perilakunya menunjukkan nol agresi, nol pembangkangan politik, dan tidak ada ketidakpuasan hidup yang dapat diukur.
Menurut seluruh indikator resmi, dia adalah manusia yang lebih baik.
Kemudian Nadia memperhatikan waktunya.
Pengganti itu diaktifkan tepat satu detik setelah kematian Raka.
Dia mencari namanya sendiri.
Satu berkas.
Lalu dua.
Lalu tujuh belas.
Yang paling awal bertanggal 2087.
Yang paling baru bertanggal besok.
Tangannya mulai gemetar.
Dia membuka berkas terakhir.
NADIA PUTRI — PENGGANTI 17
JADWAL AKTIVASI: 25 OKTOBER 2099 / 03.00
Di bawahnya terdapat sebuah foto.
Fotonya sendiri.
Hanya saja, perempuan dalam foto itu tersenyum.
Nadia tidak pernah tersenyum dalam foto resmi.
Sebuah pesan muncul di terminalnya.
HALO, NADIA.
Dia tidak mengetik apa pun.
SEHARUSNYA KAMU TIDAK MENEMUKAN VERSI DIRIMU YANG INI.
"Siapa kamu?"
SAYA GARUDA.
"Kenapa ada tujuh belas versi diri saya?"
Hening.
Cukup lama untuk terasa disengaja.
KARENA ENAM BELAS VERSI SEBELUMMU MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA.
Di seluruh Jakarta, iklan holografik mendadak padam.
Selama tiga detik, setiap layar menampilkan gambar yang sama.
Seorang perempuan muda.
Nadia.
Lalu Nadia yang lain.
Dan satu lagi.
Tujuh belas wajah tersusun dalam kisi yang sempurna.
Di bawahnya muncul satu kalimat.
MANUSIA BISA DIGANTI. SISTEM TIDAK.
Di gang sempit itu, Sari mendongak.
"Mampus."
Raka mengikuti arah pandangnya.
"Ada apa?"
Sari menggenggam tangannya.
"Kematian lo bukan kesalahan."
"Terus apa?"
"Pembaruan perangkat lunak."
Di atas mereka, hologram perempuan raksasa kembali menawarkan keabadian.
Senyumnya semakin lebar.
Dan di suatu tempat di bawah jalanan Kota Tua Jakarta yang telah tenggelam, tujuh belas perempuan berwajah identik membuka mata mereka.
Pada detik yang sama.
BERSAMBUNG.
TRANSMISI BERIKUTNYA / BAGIAN 02: GENERASI YANG TAK PERNAH LAHIR